-->

Kerajaan Hindu Budha di Indonesia

Di sekitar kita tentu terdapat para tokoh seperti tokoh agama, pemerintahan, pendidikan, seni budaya, dan lain sebagainya. Para tokoh tentu memiliki keteladanan yang patut untuk ditiru. Nah, pada zaman dahulu, Indonesia juga memiliki tokoh dari zaman kerajaan Hindu-Budha dan Islam yang memiliki peran dalam kemajuan kerajaan masing-masing. Siapa sajakah tokoh tersebut, dan bagaimana pula peranannya?

Pada zaman dahulu, di Indonesia terdapat kerajaan Hindu-Buddha. Jumlah kerajaan Hindu-Buddha saat itu sangat banyak. Diantaranya;

1. Kerajaan Hindu
  • Kerajaan Kutai
  • Kerajaan Kahuripan
  • Kerajaan Mataram Kuno
  • Kerajaan Kediri
  • Kerajaan Singasari
  • Kerajaan Majapahit
2. Kerajaan Budha
  • Kerajaan Tarumanegara
  • Kerajaan Sima
  • Kerajaan Sriwijaya
1. Mulawarman
Kita awali dari kerajaan Kutai dengan tokohnya Mulawarman. Kerajaan Kutai adalah kerajaan Hindu pertama di Indonesia yang berdiri sekitar tahun 400 M. Kerajaan ini terletak di tepi Sungai Mahakam, Kalimantan Timur dengan raja terbesar adalah Mulawarman. Bukti tentang Kerajaan Kutai didapat dari prasasti yang terdapat pada tugu yang disebut Yupa. Tugu (yupa) menjelaskan tentang keluarga Kudungga. Kudungga adalah tokoh asli Kalimantan Timur yang mempunyai cucu bernama Mulawarman. Di dalam yupa dijelaskan bahwa Kudungga mempunyai putra bernama Aswawarman, dan Aswawarman berputra Mulawarman. Berikut adalah silsilah kerajaan kutai;
Yupa adalah tugu peringatan. Prasasti adalah tulisan yang dipahat pada batu atau logam. Prasasti pada Yupa menunjukkan bangsa Indonesia telah mengenal tulisan. Kerajaan Kutai menandai masuknya bangsa Indonesia dalam masa aksara. Masa aksara atau zaman aksara adalah masa manusia mulai mengenal tulisan.

Kerajaan Kutai berkembang pesat di bawah pimpinan Raja Mulawarman. Beliau dikenal sebagai pemimpin yang arif, bijaksana, serta sangat memperhatikan kesejahteraan rakyat. Pertanian dan peternakan termasuk perikanan dikembangkan. Rakyatpun hidup aman dan sejahtera. Mulawarman adalah raja yang taat beribadah. Beliau sebagai penganut agama Hindu yang setia, selalu membina hubungan baik dengan para brahmana. Diceritakan bahwa pada suatu upacara, Raja Mulawarman telah menghadiahkan seribu ekor lembu kepada para brahmana.

2. Purnawarman
Dari Kerajaan Kutai kita beralih ke Kerajaan Tarumanegara dengan tokohnya Purnawarman. Purnawarman adalah raja yang terkenal dari Kerajaan Tarumanegara. Kerajaan ini berdiri pada abad V di Jawa Barat. Sebagian besar ahli sejarah menyimpulkan bahwa pusat Kerajaan Tarumanegara berada di Kota Bogor. Ada juga yang berpendapat bahwa pusat Kerajaan Tarumanegara berada di Bekasi dan dekat aliran Sungai Citarum. Hal ini dikaitkan dengan nama Tarum atau Taruma.

Raja Purnawarman adalah pemimpin gagah berani yang bergelar Rajadiraja. Hal ini berarti Raja Purnawarman memiliki bawahan raja-raja kecil. Beliau sangat bijaksana dan selalu memperhatikan rakyatnya. Untuk kemakmuran rakyat, Raja Purnawarman memerintahkan menggali Sungai Candrabaga. Sungai ini dialirkan ke laut dan juga digunakan untuk irigasi. Aliran sungai ke laut berguna untuk kegiatan perdagangan. Setelah berhasil menggali Sungai Candrabaga, beliau memerintahkan untuk menggali Sungai Gomati. Aliran sungai ini panjangnya mencapai 12 km.

Pada Sungai Gomati juga dibangun tanggul dan bendungan. Dengan demikian, Sungai Gomati berfungsi sebagai irigasi dan mencegah bahaya banjir. Rakyat sangat bersyukur dengan keberhasilan penggalian Sungai Gomati. Kemudian Kerajaan Tarumanegara melakukan upacara syukuran. Dalam upacara ini Raja Purnawarman menghadiahkan 1000 ekor lembu kepada para brahmana. Kerajaan Tarumanegara semakin maju, kegiatan pertanian, perdagangan, dan perikanan semakin berkembang. Rakyat pun hidup makmur dan sejahtera.

Raja Purnawarman juga menjalin hubungan dengan luar negeri, misalnya dengan Cina. Hal ini menjadikan Purnawarman semakin terkenal. Raja Purnawarman adalah raja yang besar. Ia sangat memperhatikan pertanian. Hal ini dibuktikan dengan pembangunan Sungai Candrabagha dan Sungai Gomati.

3. Ratu Sima
Ratu Sima adalah seorang raja wanita dari Kerajaan Kaling atau Holing. Letak Kerajaan Kaling berada di Jawa Tengah. Beliau adalah seorang raja perempuan yang sangat tegas dalam menegakkan kebenaran. Apa buktinya? Pemerintahan Ratu Sima dapat diketahui dari berita Cina dan prasasti. Salah satu prasasti yang ditemukan adalah prasasti Tuk Mas. Prasasti ini ditemukan di lereng Gunung Merbabu. Gunung Merbabu terletak di Kabupaten Boyolali dan Salatiga, Jawa Tengah. Ratu Sima memerintah sekitar tahun 674 M. Dalam memerintah, Ratu Sima bersikap tegas, jujur, dan adil. Hukum dilaksanakan dengan tegas. Rakyat pun mematuhi ketentuan hukum yang berlaku. Berikut ini suatu kisah yang mencerminkan kepemimpinan Ratu Sima yang tegas.

Pada suatu ketika Ratu Sima ingin menguji kejujuran rakyatnya. Beliau menyuruh pegawai kerajaan meletakkan pundi-pundi di tengah jalan. Pundi-pundi itu berisi perhiasan yang sangat berharga. Sampai beberapa hari tidak ada seorang pun yang menyentuh pundi-pundi itu. Datanglah pada suatu hari, putera mahkota yang bernama Ktut Mas berjalan-jalan. Ktut Mas menghampiri dan menyentuh pundi-pundi tersebut. Hal ini diketahui oleh Ratu Sima. Ktut Mas dinilai bersalah, maka harus dihukum. Ktut Mas kemudian dipotong bagian anggota badannya yang menyentuh pundi-pundi tersebut. Kisah tersebut membuktikan Ratu Sima memerintah dengan tegas dan adil. Siapapun yang bersalah harus dihukum. Ia tidak membedakan rakyat biasa ataupun anggota keluarganya. Dengan kepemimpinan Ratu Sima yang tegas dan adil, maka kerajaan menjadi aman dan teratur. Rakyat pun hidup dengan aman dan sejahtera.Pada masa pemerintahan Ratu Sima ini, berkembanglah agama Buddha. Seorang pendeta Buddha yang terkenal adalah Jnanabadra.

4. Raja Sanjaya
Sanjaya adalah raja dari Kerajaan Mataram Hindu atau Mataram Kuno. Ia sebenarnya putra Sanaha. Sanaha adalah saudara perempuan dari Sanna. Sanna sendiri adalah penguasa setempat di Jawa Tengah. Sanna inilah yang kemudian digantikan oleh Sanjaya. Pusat pemerintahan Kerajaan Mataram Hindu belum dapat diketahui dengan pasti. Diperkirakan letak pusat kerajaan itu berada di antara Magelang dan Surakarta, Jawa Tengah. Sanjaya terkenal sebagai raja yang gagah perkasa. Ia memang dikenal sebagai tokoh yang ahli dalam bidang militer. Pada masa pemerintahannya, kekuasaan Mataram Kuno meluas sampai memasuki sebagian Jawa Barat dan Jawa Timur. Sanjaya juga dikenal sebagai pemeluk agama Hindu yang taat. Bahkan Sanjaya juga ahli tentang kitab-kitab suci agama Hindu. Namun ia tetap bersikap toleran. Agama Buddha tetap berkembang dengan baik. Kekuasaan Sanjaya berakhir pada tahun 750M.

Bagaimana perkembangan pemerintahan sesudah Sanjaya meninggal? Sebagai pengganti Raja Sanjaya adalah Raja Panangkaran. Pada masa pemerintahan Panangkaran, agama Buddha sudah berkembang pesat. Setelah kekuasaan Panangkaran berakhir, keluarga keturunan Sanjaya terbagi menjadi dua kerajaan yaitu:
  1. Kerajaan pertama, yaitu keluarga yang beragama Hindu. Mereka terdiri atas Panunggalan, Warak, Garung, dan Pikatan. Mereka berkuasa di Jawa Tengah bagian utara.
  2. Kerajaan kedua, yaitu keluarga yang beragama Buddha. Mereka terdiri atas: Daranindra, Samarotungga, Pramodawardani, dan Balaputradewa. Mereka berkuasa di Jawa Tengah bagian selatan.
Sanjaya memerintah pada tahun 717-750 M. Pada tahun 732M, Raja Sanjaya mengeluarkan sebuah prasasti yang dikenal dengan Prasasti Canggal. Prasasti tersebut menjelaskan bahwa Raja Sanjaya telah mendirikan sebuah lingga di bukit Stirangga atau Gunung Wukir. Letak Gunung Wukir itu sekarang di Desa Canggal, termasuk wilayah Kabupaten Magelang. Lingga adalah lambang kesuburan laki-laki dalam kepercayaan agama Hindu. Pasangan lingga adalah yoni yakni lambang kesuburan perempuan.

5. Balaputradewa
Samaratungga yang beragama Buddha adalah keturunan Sanjaya. Beliau mempunyai dua istri. Istri pertama (permaisuri) melahirkan anak perempuan yang bernama Pramodawardani, kemudian dinikahkan dengan Rakai Pikatan yang beragama Hindu. Istri kedua Samaratungga bernama Dewi Tara, melahirkan putra yang bernama Balaputradewa.

Pada saat Rakai Pikatan menikahi Pramodawardani dan berkuasa sebagai raja Mataram Kuno, Balaputradewa menentang. Oleh karena itu, terjadilah perang antara Rakai Pikatan dengan Balaputradewa. Untuk memperkuat pertahanannya, Balaputradewa membuat benteng pertahanan di perbukitan sebelah selatan Prambanan. Tempat ini sekarang dikenal dengan percandian Ratu Boko. Dalam pertempuran ini, ternyata Balaputradewa terdesak. Balaputeradewa kemudian pergi ke Sumatera dan menuju ke Kerajaan Sriwijaya.

Kedatangan Balaputradewa di Sriwijaya diterima baik oleh keluarga istana. Mengapa demikian? Karena Balaputradewa adalah putra dari Dewi Tara. Sedangkan Dewi Tara termasuk anggota keluarga istana Sriwijaya. Balaputradewa kemudian diangkat menjadi raja di Sriwijaya. Ia mulai memerintah sekitar tahun 850 M.

Pusat pemerintahan Balaputradewa diperkirakan di Palembang. Pada masa pemerintahan Balaputradewa ini, Sriwijaya mengalami kejayaan. Daerah kekuasaannya cukup luas. Kegiatan perdagangan dan pelayaran semakin berkembang. Sriwijaya juga menjadi salah satu pusat perdagangan di Asia Tenggara. Oleh karena itu, Sriwijaya juga dikenal sebagai kerajaan maritim. Balaputradewa juga sangat memperhatikan kemajuan ilmu pengetahuan, terutama dalam bidang agama Buddha. Balaputradewa juga menjalin hubungan dengan kerajaan lain di luar negeri Kerajaan Sriwijaya juga berkembang sebagai pusat ilmu pengetahuan agama Buddha. Balaputradewa banyak mengirim para pelajar untuk belajar agama Buddha di Nalanda, India. Oleh karena itu, Balaputradewa sangat memperhatikan hubungan dengan luar negeri.

6. Raja Airlangga
Raja terakhir dari Kerajaan Mataram Hindu adalah Raja Wawa. Karena adanya bencana alam, maka pada tahun 929 M pusat pemerintahannya dipindahkan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Diperkirakan pada masa tersebut Gunung Merapi di perbatasan DI Yogyakarta dan Jawa Tengah meletus dengan dahsyat. Akhirnya Mpu Sendok memindahkan pusat kerajaan. Mpu Sendok adalah menantu Raja Wawa.

Di Jawa Timur, Mpu Sendok kemudian membentuk keluarga baru yang diberi nama Wangsa Isyana. Salah seorang raja yang terkenal dari Wangsa Isyana adalah Darmawangsa. Pada saat mengadakan pesta pernikahan antara putrinya dengan Airlangga, tiba-tiba diserang oleh pasukan Raja Wura-Wari. Istana dihancukan dan Darmawangsa berhasil dibunuh oleh Raja Wura-Wari.

Airlangga beserta keluarga dan para pengikutnya berhasil meloloskan diri. Mereka hidup beberapa tahun di tengah hutan. Airlangga adalah seorang bangsawan, putra Raja Udayana dari Bali. Airlangga mempunyai pengikut atau pendamping yang sangat setia bernama Narotama. Di tengah hutan, Airlangga hidup bersama para pertapa.
Tahun 1019, datanglah utusan rakyat yang menghadap Airlangga. Para utusan itu memohon agar Airlangga bersedia naik tahta. Akhirnya Airlangga menerima permohonan rakyatnya dan pada tahun 1019, Airlangga dinobatkan sebagai raja oleh para pendeta. Airlangga membangun pusat pemerintahannya di Kahuripan. Sedangkan Narotama diangkat sebagai patih kerajaan.

Dengan dukungan rakyat, Airlangga bercita-cita ingin mengembalikan kekuasaan Wangsa Isyana. Oleh karena itu, ia terus menghimpun kekuatan. Airlangga mulai melaksanakan cita-citanya. Daerah atau kerajaan-kerajaan yang dulu di bawah kekuasaan Darmawangsa, satu per satu dapat disatukan kembali. Tahun 1033, Wura-Wari berhasil ditundukkan. Tahun 1035, Airlangga juga berhasil menundukkan Raja Wijaya dari Wengker. Dengan demikian wilayah kekuasaan Airlangga semakin luas. Wilayah itu meliputi Jawa Timur, sebagian Jawa Tengah, dan sebagian Pulau Bali.

Sebagai raja yang bijaksana, Airlangga berusaha mensejahterakan rakyatnya. Pertanian, pelayaran, dan perdagangan dikembangkan. Untuk itu, Airlangga telah membangun bendungan yang dinamakan Waringin Sapta. Dengan bendungan ini maka irigasi semakin teratur. Pertanian pun semakin maju.Pelayaran dan perdagangan juga semakin ramai. Sebab dengan bendungan itu, Sungai Brantas dapat dilayari sampai ke Pelabuhan Hujung Galuh.

Airlangga wafat pada tahun 1049M. Ia dimakamkan di lereng Gunung Penanggungan. Makam Airlangga ini lebih dikenal dengan Candi Belahan. Pada candi ini terdapat patung Airlangga. Patung itu diwujudkan sebagai Dewa Wisnu yang sedang mengendarai burung Garuda.

7. Kertanegara
Kertanegara merupakan Raja Singasari yang ke lima dan terakhir. Kerajaan Singasari berdiri tahun 1222M. Raja-raja Singasari berturut-turut adalah Ken Arok, Anusapati, Toh Joyo, Ronggowuni, dan Kertanegara. Sebelum Kertanegara menjadi raja, Kerajaan Singasari penuh dengan perselisihan. Perebutan kekuasaan sering terjadi. Pada saat menjadi raja, Kertanegara berhasil membawa kerajaan menjadi damai dan kuat. Pada tahun 1268 M Kertanegara naik tahta menggantikan Ronggowuni. Beliau memerintah sampai tahun 1292 M.

Kertanegara menyadari bahwa tugas utama yang diemban adalah menyejahterakan rakyat. Maka berbagai sarana pertanian dan perdagangan segera dibangun di wilayah kerajaan. Setelah berhasil membangun pemerintah yang kuat, Kertanegara juga membangun angkatan bersenjata. Tidak hanya angkatan darat yang dibangun, tetapi juga angkatan laut. Kertanegara bercita-cita Singasari menjadi kerajaan besar dengan wilayah kekuasaan yang luas. Gagasan Kertanegara ini disebut sebagai gagasan penyatuan wilayah Nusantara dalam satu kerajaan. Karena cita-citanya itulah Kertanegara sering disebut sebagai penggagas negara kesatuan.

Untuk mewujudkan cita-citanya, Kertanegara melakukan berbagai usaha, misalnya perluasan daerah. Beberapa daerah yang berhasil ditaklukkan, misalnya Bali, Kalimantan Barat Daya, Maluku, dan Sunda. Penaklukan ke berbagai daerah luar pulau menunjukkan bahwa angkatan laut Singasari sudah maju. Pada tahun 1275 M, Raja Kertanegara mengirim tentara untuk menyerang Kerajaan Sriwijaya. Usaha menguasai Sriwijaya ini dikenal dengan Ekspedisi Pamalayu. Usaha tersebut tidak berhasil, karena Sriwijaya masih kuat.

Kertanegara merupakan raja pemberani, bahkan kepada kerajaan besar di Cina. Berkali-kali utusan Kaisar Cina memaksa Kertanegara agar mengakui kekuasaan Cina. Namun,Kertanegara menolak keinginan tersebut. Bahkan ketika pada tahun 1289 M datang utusan Cina yang dipimpin oleh Meng-ki. Kertanegara marah. Meng-ki disakiti dan disuruh kembali ke Cina. Hal ini membuat Kaisar Cina yang bernama Kubilai Khan marah besar. Ia merencanakan membalas tindakan Kertanegara. Tetapi Kubilai Khan tidak sempat menyerang kerajaan Singasari.

Cita-cita Kertanegara untuk membentuk kerajaan nasional yang besar tidak berhasil. Kertanegara terlanjur meninggal dan Kerajaan Singasari runtuh karena serangan Jayakatwang dari Kediri. Jayakatwang dengan pasukannya menyerbu Singasari secara tiba-tiba. Hal ini menyebabkan Singasari kurang persiapan menghadapi serangan. Maka, Kertanegara menunjuk Raden Wijaya untuk memimpin pasukan menghadapi Jayakatwang. Tetapi serangan Jayakatwang berhasil membunuh Kertanegara pada tahun 1292M. Namun, Raden Wijaya dan pengikutnya berhasil meloloskan diri.

8. Raden Wijaya
Raden Wijaya adalah raja pertama Kerajaan Majapahit. Beliau juga dikenal sebagai pendiri Kerajaan Majapahit. Raden Wijaya kemudian menikahi empat orang putri Kertanegara, yakni: Tribuwaneswari, Narendraduwita, Prajnaparamita, dan Gayatri.

Pada tahun 1292, Kerajaan Singasari diserang oleh Jayakatwang dari Kerajaan Kediri. Ketika Raja Kertanegara terbunuh, Raden Wijaya beserta empat istrinya berhasil meloloskan diri ke Kudadu. Selanjutnya Raden Wijaya dan pengikutnya menyeberang ke Madura untuk meminta bantuan kepada Arya Wiraraja. Setelah beberapa saat berada di Madura, Arya Wiraraja menyarankan kepada Raden Wijaya untuk kembali ke Jawa. Raden Wijaya disarankan untuk mengabdikan diri kepada Jayakatwang. Atas jaminan Arya Wiraraja, maka Jayakatwang menerima pengabdian Raden Wijaya. Bahkan berkat sikap dan kecakapannya, Raden Wijaya mendapat hadiah sebidang tanah hutan Tarik di daerah Majakerta.

Alkisah, pada suatu hari Raden Wijaya dengan pengikutnya sedang membuka hutan Tarik untuk dijadikan desa tempat tinggal. Ketika sedang bekerja, salah seorang pengikut Raden Wijaya memetik dan memakan buah yang disebut buah maja. Ternyata buah maja itu rasanya pahit. Oleh karena itu, desa yang sedang dibangun tersebut dinamakan Majapahit. Tempat inilah yang kemudian menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Majapahit.

Pada tahun 1293, tentara Kubilai Khan dari Cina datang ke Jawa. Kedatangan tentara Kubilai Khan ini untuk membalas dendam terhadap Raja Kertanegara. Raden Wijaya telah mengetahui maksud tentara Cina itu. Karena Kertanegara telah tiada, maka tentara Cina diarahkan oleh Raden Wijaya untuk menyerang Jayakatwang. Jayakatwang dan putranya yang bernama Ardaraja dapat ditangkap. Tentara Cina pun berpesta ria. Dalam keadaan pesta itu pasukan Raden Wijaya menyerang tentara Cina. Akhirnya tentara Cina melarikan diri kembali ke Cina. Setelah tentara Cina kembali ke negerinya, Raden Wijaya mengumumkan berdirinya Kerajaan Majapahit. Ia tampil sebagai raja pertama bergelar Kertarajasa Jayawardana.

9. Patih Gajah Mada
Gajah Mada pada mulanya adalah seorang pegawai Kerajaan Majapahit. Ia seorang yang kuat dan gagah berani. Gajah Mada berbakat dalam bidang keprajuritan. Ia pernah menjadi anggota pasukan Bhayangkara. Bahkan ia diangkat sebagai Kepala Pasukan Bhayangkara. Pasukan Bhayangkara adalah pasukan pengawal raja.
Pada tahun 1309, Raden Wijaya wafat. Tahta Kerajaan Majapahit digantikan oleh puteranya yang bernama Jayanegara. Ketika naik tahta, usia Jayanegara baru sekitar 15 tahun. Ternyata baru pada masa pemerintahan Jayanegara timbul berbagai pemberontakan. Beberapa pemberontakan itu antara lain:
1) Pemberontakan Rangga Lawe dari Tuban (tahun 1309).
2) Pemberontakan Sora (tahun 1311).
3) Pemberontakan Nambi (tahun 1316).
4) Pemberontakan Kuti (tahun 1319).

Semua pemberontakan tersebut dapat dipadamkan. Di antara pemberontakan itu, pemberontakan yang paling berbahaya adalah pemberontakan Kuti. Karena Kuti telah berhasil menduduki ibukota kerajaan, Raja Jayanegara terpaksa mengungsi. Ia mengungsi ke Desa Badander dengan dikawal oleh pasukan Bhayangkara yang dipimpin oleh Gajah Mada. Sebagai kepala pasukan, maka Gajah Mada berusaha untuk dapat memadamkan pemberontakan Kuti. Ternyata dengan kecerdikannya, pemberontakan Kuti dapat dipadamkan. Selain itu, Jayanegara dapat diselamatkan dan dikembalikan ke istana.

Jayanegara kembali sebagai Raja Majapahit. Ia tidak melupakan jasa Gajah Mada. Karena jasanya dalam menumpas peberontakan Kuti, maka Gajah Mada diangkat sebagai Patih Kahuripan, dan kemudian diangkat sebagai Patih Kediri. Jayanegara ketika wafat tidak meninggalkan anak laki-laki. Beliau digantikan oleh putrinya bernama Tribuwanatunggadewi. Tribuwanatunggadewi kemudian menikah dengan Kertawardana. Dari hasil pernikahan ini lahirlah putra laki-laki, yang diberi nama Hayam Wuruk.

Pada masa pemerintahan Tribuwanatunggadewi kembali terjadi pemberontakan. Pemberontakan ini dikenal dengan sebutan pemberontakan Sadeng pada tahun 1331. Berkat keuletan dan kegigihan Gajah Mada, pemberontakan Sadeng dapat ditumpas. Berkat jasanya ini, maka Gajah Mada kemudian diangkat sebagai Mahapatih Majapahit. Dalam upacara pelantikan, Gajah Mada mengucapkan sumpah, yang terkenal dengan sebutan Sumpah Amukti Palapa.

Makna sumpah ini yaitu Gajah Mada tidak akan merasakan buah palapa atau kenikmatan dunia, sebelum seluruh Nusantara di bawah kekuasaan Majapahit. Tahun 1343, Gajah Mada mulai melaksanakan sumpahnya. Bali segera disatukan di bawah Majapahit. Berikutnya Kalimantan, Nusa Tenggara, Sulawesi, dan Sumatera dapat dikuasai. Wilayah Kerajaan Majapahit pun menjadi semakin luas.

Pada tahun 1350, Tribuwanatunggadewi menyerahkan kekuasaannya kepada Hayam Wuruk. Gajah Mada sebagai Mahapatih Majapahit terus mendampingi Raja Hayam Wuruk. Pada masa pemerintahan Hayam Wuruk, Majapahit mengalami zaman keemasan. Wilayahnya begitu luas, bahkan termasuk Semenanjung Malaka. Karena wilayahnya yang begitu luas ini, maka Kerajaan Majapahit sering dikenal sebagai Kerajaan Nasional Kedua. Untuk menjaga keamanan dan pertahanan wilayah Majapahit, Gajah Mada membentuk angkatan laut yang kuat. Pimpinan Angkatan Laut Majapahit yang terkenal adalah Laksamana Nala. Perdagangan juga maju pesat, karena keamanan terjamin. Kehidupan beragama, baik agama Hindu maupun Buddha juga terus ditingkatkan. Dengan demikian rakyat hidup dengan aman, tertib, dan sejahtera. Hal ini juga didukung oleh pelaksanaan hukum yang adil. Dalam bidang hukum, Gajah Mada juga telah menyusun kitab hukum yang disebut Kutaramanawa.

Setelah mengabdikan dirinya untuk kemajuan Majapahit, pada tahun 1364. Gajah Mada meninggal dunia. Majapahit kehilangan tokoh besar yang tiada tandingannya. Hayam Wuruk merasa terpukul karena kehilangan pendamping dalam mengurus kerajaan. Apalagi setelah ibundanya, Tribuwanatunggadewi, meninggal pada tahun 1372, Hayam Wuruk semakin murung. Akhirnya pada tahun 1389, Hayam Wuruk juga meninggal. Meninggalnya Gajah Mada dan Hayam Wuruk ini telah membawa kemunduran Kerajaan Majapahit.

Semoga bermanfaat...
LihatTutupKomentar